Pada setiap penerbangan, ketika pesawat hendak lepas landas, pramugari akan memeragakan instruksi keselamatan penerbangan. Kita akan diajari bagaimana menggunakan pelampung, masker oksigen, dan sebagainya. Hal yang menarik dari prosesi ini adalah, secara eksplisit kru kabin menyatakan bahwa ketika dalam kondisi darurat kita wajib menyelamatkan diri kita terlebih dahulu, setelah itu, barulah kita memberi bantuan terhadap orang lain. Terdengar egois? Awalnya saya berpikir demikian. Mengapa harus kita terlebih dahulu? Jangan-jangan orang yang kita bawa memiliki daya tahan tubuh yang lebih rendah, misal kita membawa bayi atau balita. Mengapa harus saya terlebih dahulu? Seiring waktu, semakin banyak referensi yang saya peroleh. proses tersebut justru terdengar semakin masuk akal.
Bagaimana kita bisa menyelamatkan orang lain jika kita sendiri pada akhirnya justru menjadi pihak yang harus ditolong? Siapa yang akan membantu kita? Alih-alih menyelamatkan dua jiwa, kita justru bisa kehilangan hidup kita dan orang lain yang seharusnya bisa kita selamatkan. Prinsip tersebut berlaku pula dalam hidup kita sehari-hari. Sebelum kita memberikan kenyamanan, rasa sayang, perhatian, dan cinta untuk orang lain, sudahkah kita menyayangi diri kita sendiri? Mungkin setiap hari dengan mudahnya kita berucap "Halo, apa kabarmu hari ini?" "Kamu kenapa?" "kamu ingin apa?". Semangat ya, kamu bisa, sekarang gak apa gagal, esok coba lagi" "Terimakasih ya..." atau pertanyaan-pertanyaan lainnya untuk orang-orang di sekitar kita. Tapi, kapan terakhir kali kita menanyakan hal yang sama terhadap diri kita? Atau justru belum pernah ama sekall? Alih-alih mengasihi diri, seringkali kita justru menjadi orang yang paling jago menyalahkan diri atas segala ketidak-idealan yang kita peroleh. Tidak suka ketika dituntut orang lain, tetapi justru diri kita yang dengan mudahnya menuntut kesempurnaan atas segala hal yang kita lakukan. Terdengar familiar? Atau justru terasa wajar?
Konsep mengasihi diri memang mungkin terdengar asing bagi sebagian orang, tetapi coba kita renungkan sejenak Ketika kita memilki sahabat baik, lantas kata- kata yang setiap hari kita sampaikan padanya adalah pertanyaan semacam "Kok kamu gitu aja gak bisa?, "Kamu ini jelek banget sih?" "Ih gendut banget sih kamu?" Apa yang la rasakan? Apakah la akan tetap mau menjadi sahabat kita? la sahabat kita yang tentunya memiliki ikatan pertemanan lebih kuat dibanding teman atau sekadar kenalan. Tapi apakah la akan tetap bersikap baik terhadap diri kita ketika kita memperlakukan la dengan cara demikian secara terus menerus? Tentu sulit. Begitu pula yang terjadi dengan diri kita. Gambaran apa yang akan menetap dalam benak dan pikiran kita, ketika setiap hari kita selalu memberikan kata-kata negatif, tuntutan, dan kecaman atas diri kita? Mengasihi diri atau dalam istilah psikologi dikenal dengan istilah self compassion bukan berarti kita menjadi individu yang egois dan serba ingin menang sendiri.
Menjadi seseorang yang mampu mengasihi diri sendiri, justru digambarkan sebagai individu yang mampu berempati terhadap penderitaan orang lain dan mampu bersikap baik terhadap diri sendiri saat mengalami situasi yang tidak menyenangkan. Mengasihi diri sendiri ialah tentang bagaimana kita nemperlakukan diri kita dengan layak. Memberi ruang ketika kita sakit hati, memberi tempat ketika kita lelah, memberi spasi ketika kita mencintai, memberi terimakasih ketika kita telah berusaha, dan memberi pelukan ketika kita merana, karena hidup sejatinya tak semulus wajah oppa-oppa Korea.
Akan ada kegagalan yang kita alami, kesulitan, hambatan, dan rintangan. Situasi tersebut akan sangat rentan menyebabkan stres, kecemasan, atau justru masalah-masalah psikologis lainnya. Dengan kita memberi ruang pada diri kita untuk merasakan penderitaan, kita belajar untuk bisa memberi kebaikan terhadap diri dan orang lain. Alih-alih menyalahkan diri, kita belajar untuk menepuk pundak kita sembari berbisik "Terimakasih, kamu sudah berjuang, kali ini belum berhasil tapi tidak apa, ayo kita coba lagi, kelak kita akan berhasil" Pada akhirnya, setelah kita menyayangi diri kita sendiri, kita akan memahami, bagaimana seseorang ingin diperlakukan, apa perasaan yang ia rasakan, sehingga kita berkembang menjadi individu yang lebih optimis, sekaligus individu yang lebih empati terhadap orang lain. Bagaimana kita akan member jka kita tidak memilki? Bagaimana kita memperlakukan orang lain adalah cerminan bagaimana kita memperlakukan diri kita. Jadi, sebelum berani mengungkapkan "Aku sayang padamu", coba bercermin terlebih dahulu , sudahkah kita mencintai sosok dalam cermin tersebut?.

