Friday, March 22, 2019

Mencintai Sosok dalam Cermin

          
         Pada setiap penerbangan, ketika pesawat hendak lepas landas, pramugari akan memeragakan instruksi keselamatan penerbangan. Kita akan diajari bagaimana menggunakan pelampung, masker oksigen, dan sebagainya. Hal yang menarik dari prosesi ini adalah, secara eksplisit kru kabin menyatakan bahwa ketika dalam kondisi darurat kita wajib menyelamatkan diri kita terlebih dahulu, setelah itu, barulah kita memberi bantuan terhadap orang lain. Terdengar egois? Awalnya saya berpikir demikian. Mengapa harus kita terlebih dahulu? Jangan-jangan orang yang kita bawa memiliki daya tahan tubuh yang lebih rendah, misal kita membawa bayi atau balita. Mengapa harus saya terlebih dahulu? Seiring waktu, semakin banyak referensi yang saya peroleh. proses tersebut justru terdengar semakin masuk akal.

           Bagaimana kita bisa menyelamatkan orang lain jika kita sendiri pada akhirnya justru menjadi pihak yang harus ditolong? Siapa yang akan membantu kita? Alih-alih menyelamatkan dua jiwa, kita justru bisa kehilangan hidup kita dan orang lain yang seharusnya bisa kita selamatkan. Prinsip tersebut berlaku pula dalam hidup kita sehari-hari. Sebelum kita memberikan kenyamanan, rasa sayang, perhatian, dan cinta untuk orang lain, sudahkah kita menyayangi diri kita sendiri? Mungkin setiap hari dengan mudahnya kita berucap "Halo, apa kabarmu hari ini?" "Kamu kenapa?" "kamu ingin apa?". Semangat ya, kamu bisa, sekarang gak apa gagal, esok coba lagi" "Terimakasih ya..." atau pertanyaan-pertanyaan lainnya untuk orang-orang di sekitar kita. Tapi, kapan terakhir kali kita menanyakan hal yang sama terhadap diri kita? Atau justru belum pernah ama sekall? Alih-alih mengasihi diri, seringkali kita justru menjadi orang yang paling jago menyalahkan diri atas segala ketidak-idealan yang kita peroleh. Tidak suka ketika dituntut orang lain, tetapi justru diri kita yang dengan mudahnya menuntut kesempurnaan atas segala hal yang kita lakukan. Terdengar familiar? Atau justru terasa wajar?

            Konsep mengasihi diri memang mungkin terdengar asing bagi sebagian orang, tetapi coba kita renungkan sejenak Ketika kita memilki sahabat baik, lantas kata- kata yang setiap hari kita sampaikan padanya adalah pertanyaan semacam "Kok kamu gitu aja gak bisa?, "Kamu ini jelek banget sih?" "Ih gendut banget sih kamu?" Apa yang la rasakan? Apakah la akan tetap mau menjadi sahabat kita? la sahabat kita yang tentunya memiliki ikatan pertemanan lebih kuat dibanding teman atau sekadar kenalan. Tapi apakah la akan tetap bersikap baik terhadap diri kita ketika kita memperlakukan la dengan cara demikian secara terus menerus? Tentu sulit. Begitu pula yang terjadi dengan diri kita. Gambaran apa yang akan menetap dalam benak dan pikiran kita, ketika setiap hari kita selalu memberikan kata-kata negatif, tuntutan, dan kecaman atas diri kita? Mengasihi diri atau dalam istilah psikologi dikenal dengan istilah self compassion bukan berarti kita menjadi individu yang egois dan serba ingin menang sendiri.

           Menjadi seseorang yang mampu mengasihi diri sendiri, justru digambarkan sebagai individu yang mampu berempati terhadap penderitaan orang lain dan mampu bersikap baik terhadap diri sendiri saat mengalami situasi yang tidak menyenangkan. Mengasihi diri sendiri ialah tentang bagaimana kita nemperlakukan diri kita dengan layak. Memberi ruang ketika kita sakit hati, memberi tempat ketika kita lelah, memberi spasi ketika kita mencintai, memberi terimakasih ketika kita telah berusaha, dan memberi pelukan ketika kita merana, karena hidup sejatinya tak semulus wajah oppa-oppa Korea.
         
           Akan ada kegagalan yang kita alami, kesulitan, hambatan, dan rintangan. Situasi tersebut akan sangat rentan menyebabkan stres, kecemasan, atau justru masalah-masalah psikologis lainnya. Dengan kita memberi ruang pada diri kita untuk merasakan penderitaan, kita belajar untuk bisa memberi kebaikan terhadap diri dan orang lain. Alih-alih menyalahkan diri, kita belajar untuk menepuk pundak kita sembari berbisik "Terimakasih, kamu sudah berjuang, kali ini belum berhasil tapi tidak apa, ayo kita coba lagi, kelak kita akan berhasil" Pada akhirnya, setelah kita menyayangi diri kita sendiri, kita akan memahami, bagaimana seseorang ingin diperlakukan, apa perasaan yang ia rasakan, sehingga kita berkembang menjadi individu yang lebih optimis, sekaligus individu yang lebih empati terhadap orang lain. Bagaimana kita akan member jka kita tidak memilki? Bagaimana kita memperlakukan orang lain adalah cerminan bagaimana kita memperlakukan diri kita. Jadi, sebelum berani mengungkapkan "Aku sayang padamu", coba bercermin terlebih dahulu , sudahkah kita mencintai sosok dalam cermin tersebut?.

Monday, March 11, 2019

Cara Meningkatkan Kemampuan Kontrol Diri pada Mahasiswa

    


 Perguruan tinggi merupakan Lembaga akademik dengan tugas utamanya menyelenggarakan pendidikan dan mengembangkan ilmu, pengetahuan, teknologi, dan seni. Tujuan pendidikan sejatinya tidak hanya mengembangkan keilmuan, tetapi juga membentuk kecerdasan emosi, kepribadian kemandirian, keterampilan sosial, dan karakter Salah satu indikator mahasiswa yang cerdas secara emosional adalah memiliki kemampuan mengontrol diri dengan baik.
      Kontrol diri merupakan salah satu kemampuan dasar untuk bertahan hidup. Hal ini dikarenakan ketidakmampuan mengendalikan emosi akan menjadi hambatan dalam hal berhubungan dengan orang lain. Mahasiswa yang tengah mengalami perubahan dari usia remaja menjadi dewasa harus memiliki kontrol diri yang baik untuk menyesuaikan diri pada lingkungannya. Indikator keberhasilan sebagal penanda tercapainya kemampuan mengontrol diri mahasiswa, antara lain:
a. Behavior control, Kontrol perilaku merupakan kemampuan untuk memodifikasi suatu keadaan yang tidak menyenangkan bagi seseorang. Kemampuan ini menyangkut siapa dan bagaimana seseorang dapat mengendalikan situasi atau keadaan yang tidak menyenangkan tersebut.
b. Cognitive control, Kontrol kognitif ialah kemampuan untuk mengolah informasi yang tidak diinginkan dengan cara menginterpretasi, menilai, atau memadukan suatu kejadian dalam kerangka kognitif sebagai suatu proses adaptasi psikologis untuk mengurangi tekanan.
c. Decisional control, Kontrol pengambilan keputusan adalah kemampuan untuk memilih suatu tindakan berdasarkan pada sesuatu yang diyakini atau disetujuinya. Pengendalian diri dalam menentukan pilihan akan berfungsi optimal dengan adanya suatu kesempatan, kebebasan, atau kemungkinan pada diri individu untuk memilih berbagai kemungkinan tindakan dalam pengambilan keputusan.
d. Emotional control, Kontrol emosi yaitu kemampuan mengarahkan energi emosi keseluruh ekspresi yang bermanfaat dan dapat diterima secara sosial. Kontrol emosi dilakukan dengan cara menitikberatkan pada penekanan reaksi-reaksi yang nampak terhadap rangsangan yang menimbulkan emosi.
     Sebagai individu, mahasiswa perlu mengembangkan nalar dalam penilaiannya dan memanajemen diri untuk menghindari ledakan emosi, juga untuk menenangkan diri ketika sedang berada dalam kondisi kehilangan kontrol diri. Mahasiswa yang kehilangan kontrol diri dapat melukai orang lain dan mungkin membahayakan hubungan positif dengan orang lain. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan mengontrol diri yaitu:
a. Berlatih mengontrol perilaku,  Mahasiswa dapat berlatih untuk mengendalikan diri dalam merespon suatu keadaan tertentu, misalnya ketika sedang merasakan amarah tetap mampu menahan keinginan, tidak membanting-banting benda/barang di sekitarnya namun mengalihkan pada hal-hal positif seperti membasuh muka dengan air, beribadah, relaksasi, mencari udara segar, dan lain-lain.
b. Berlatih mengendalikan kognitif, Mahasiswa mengendalikan diri untuk mengolah sebuah informasi sebagai media untuk mengurangi tekanan. Misalnya mahasiswa mengisi waktu dengan membaca akun media sosial yang berisi ilmu pengetahuan atau disesuaikan dengan hobi dan minat. Hal ini lebih bijak daripada sepanjang hari mahasiswa menghabiskan waktu untuk bermain game ketika sedang stres.
c. Berlatih mengambil keputusan, Mahasiswa dapat berlatih untuk memilih suatu tindakan tertentu yang telah diyakini. Misalnya mahasiswa dihadapkan pada beberapa permasalahan dalam satu situasi yang harus dipilh dengan mempertimbangkan skala prioritas dan resiko resiko yang terkecil.
Referensi:
Dr. Budi Astuti, M.Si.