Monday, April 8, 2019

Survive di Kampus Baru

        



          Menjadi pribadi yang lebih mandiri, dewasa, dengan pola pikir kritis dan kreatif merupakan suatu keniscayaan bila Anda telah menjadi mahasiswa. Dunia mahasiswa tak lagi sama dengan masa sekolah menengah karena memberikan pengalaman yang menarik dan menantang, yang tentunya menjadi bekal bagi Anda menghadapi masa depan. Berbagai penyesuaian diri perlu dilakukan untuk mencapai kesuksesan di kampus agar Anda bisa survive di kampus baru. Berikut ini akan dideskripsikan, apa saja yang perlu Anda lakukan sebagai mahasiswa baru.

1. Mengoptimalkan masa orientasi untuk mengenal seluk beluk kampus.
         Kegiatan orientasi kampus biasanya memberikan berbagai informasi aktual terkait dunia kampus,misalnya sistem belajar di kampus, jadwal belajar di kampus, fasilitas kampus, berbagai alternatif Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang bisa dikuti, informasi beasiswa, info seputar jurusan, dan info penting lainnya. Anda dapat mengoptimalkan momen ini dengan bertanya pada senior atau dosen (bila ada sesi kegiatan yang melibatkan dosen), atau membuka Web kampus. Selain itu, bersikaplah terbuka dan berkenalan dengan teman yang Anda temui meskipun berbeda jurusan, agar Anda secara perlahan tidak lagi merasa sendirian dan barangkali suatu saat kita membutuhkan bantuan teman/orang lain.

2. Selektif memilih teman.
              Teman dapat mempengaruhi diri dan masa depan Anda, sehingga selektiflah dalam memilih teman. Hati-hatilah dengan teman yang mengajak Anda pada paham radikal, yang pergaulannya bebas, terlibat dengan narkoba, yang belum serius untuk kuliah, yang mengganggu konsentrasi kuliah, dan pengaruh negatif lainnya. Teman yang baik adalah teman yang mengajak pada kebaikan dan mengingatkan kita saat melakukan kesalahan.


3. Belajar mengatur keuangan.
              Sebagian orangtua biasanya memberikan uang saku secara berkala misalnya mingguan atau bulanan. Pandai-pandailah nengatur keuangan, jangan sampai besar pasak daripada tiang, sehingga uang sudah habis sebelum ada kiriman lagi. Bisa saja Anda neminta orangtua untuk mengirim (trasfer) uang lagi, namun tentunya hal ini akan merepotkan orangtua, cobalah mengatur keuangan dengan bijaksana untuk biaya makan, transportasi, kegiatan ekstra kampus, membeli buku, fotokopi, pulsa, kuota internet, dan lainnya. Anda bisa memanfaatkan layanan wifi kampus, buku-buku di perpustakaan, bersepeda atau jalan kaki ke kampus bila memungkinkan, untuk berhemat.


4. Mengikuti kuliah dengan baik dan kenali karakteristik dosen.
         Rajinlah mengikuti kuliah dan biasakan disiplin waktu. Datang tepat waktu, kemudian duduk di tempat dimana Anda bisa fokus menyimak penjelasan dosen, bertanya bila perlu, mencatat poin-poin penting, dan menyelesaikan tugas semaksimal mungkin. Jangan terbiasa menunda tugas ya. Selain itu, kenali karakteristik dosen dan sesuailkan diri Anda. Ada dosen yang suka dengan mahasiswa yang aktif diskusi, rajin dan rapi dalam mengerjakan tugas, ada yang sangat disiplin, dan sebagainya. Sejatinya, setiap dosen itu baik dan punya cara masing-masing dalam mendidik dan mengajar mahasiswanya agar sukses dimasa depan.


5. Ikuti keglatan kampus.
          Mengikuti kegiatan kampus penting dilakukan untuk menambah pengalaman dan keterampilan sosial Anda. Pilihlah salah satu atau dua unit kegiatan kampus yang Anda minati dan fokuslah untuk pengembangan diri Anda di unit tersebut. Pengalaman di luar kuliah akan semakin menambah pengalaman, pertemanan, kepercayaan diri dan kedewasaan Anda.


6. Belajar mengelola waktu.
              Anda perlu belajar mengelola waktu . antara kegiatan kuliah, kegiatan ekstra kampus (UKM), untuk teman teman, dan untuk diri Anda sendiri. Hindari melakukan belajar sistem kebut semalam, menunda-nunda tugas, sering begadang dan luangkan waktu untuk me time di tengah kesibukan.


7. Aktif menjalin komunikasi.
         Komunikasi dapat dilakukan dengan orangtua, dosen mata kuliah, dosen pendamping akademik (PA) atau  dosen pendamping mahasiswa untuk membantu Anda bila mengalami kesulitan atau kebimbangan dalam mengambil keputusan. Di UNY terdapat Unit layanan bimbingan  dan konseling (ULBK) yang dapat Anda manfaatkan    untuk curhat dengan tidak dipungut biaya, jadi  jangan sungkan untuk menghubungi pihak terkait bila anda mengalami masalah selama kuliah.
Selamat mencoba dan semoga bisa survive di kampus baru.



Referensi:
Muthmainah, M.Pd.

Friday, March 22, 2019

Mencintai Sosok dalam Cermin

          
         Pada setiap penerbangan, ketika pesawat hendak lepas landas, pramugari akan memeragakan instruksi keselamatan penerbangan. Kita akan diajari bagaimana menggunakan pelampung, masker oksigen, dan sebagainya. Hal yang menarik dari prosesi ini adalah, secara eksplisit kru kabin menyatakan bahwa ketika dalam kondisi darurat kita wajib menyelamatkan diri kita terlebih dahulu, setelah itu, barulah kita memberi bantuan terhadap orang lain. Terdengar egois? Awalnya saya berpikir demikian. Mengapa harus kita terlebih dahulu? Jangan-jangan orang yang kita bawa memiliki daya tahan tubuh yang lebih rendah, misal kita membawa bayi atau balita. Mengapa harus saya terlebih dahulu? Seiring waktu, semakin banyak referensi yang saya peroleh. proses tersebut justru terdengar semakin masuk akal.

           Bagaimana kita bisa menyelamatkan orang lain jika kita sendiri pada akhirnya justru menjadi pihak yang harus ditolong? Siapa yang akan membantu kita? Alih-alih menyelamatkan dua jiwa, kita justru bisa kehilangan hidup kita dan orang lain yang seharusnya bisa kita selamatkan. Prinsip tersebut berlaku pula dalam hidup kita sehari-hari. Sebelum kita memberikan kenyamanan, rasa sayang, perhatian, dan cinta untuk orang lain, sudahkah kita menyayangi diri kita sendiri? Mungkin setiap hari dengan mudahnya kita berucap "Halo, apa kabarmu hari ini?" "Kamu kenapa?" "kamu ingin apa?". Semangat ya, kamu bisa, sekarang gak apa gagal, esok coba lagi" "Terimakasih ya..." atau pertanyaan-pertanyaan lainnya untuk orang-orang di sekitar kita. Tapi, kapan terakhir kali kita menanyakan hal yang sama terhadap diri kita? Atau justru belum pernah ama sekall? Alih-alih mengasihi diri, seringkali kita justru menjadi orang yang paling jago menyalahkan diri atas segala ketidak-idealan yang kita peroleh. Tidak suka ketika dituntut orang lain, tetapi justru diri kita yang dengan mudahnya menuntut kesempurnaan atas segala hal yang kita lakukan. Terdengar familiar? Atau justru terasa wajar?

            Konsep mengasihi diri memang mungkin terdengar asing bagi sebagian orang, tetapi coba kita renungkan sejenak Ketika kita memilki sahabat baik, lantas kata- kata yang setiap hari kita sampaikan padanya adalah pertanyaan semacam "Kok kamu gitu aja gak bisa?, "Kamu ini jelek banget sih?" "Ih gendut banget sih kamu?" Apa yang la rasakan? Apakah la akan tetap mau menjadi sahabat kita? la sahabat kita yang tentunya memiliki ikatan pertemanan lebih kuat dibanding teman atau sekadar kenalan. Tapi apakah la akan tetap bersikap baik terhadap diri kita ketika kita memperlakukan la dengan cara demikian secara terus menerus? Tentu sulit. Begitu pula yang terjadi dengan diri kita. Gambaran apa yang akan menetap dalam benak dan pikiran kita, ketika setiap hari kita selalu memberikan kata-kata negatif, tuntutan, dan kecaman atas diri kita? Mengasihi diri atau dalam istilah psikologi dikenal dengan istilah self compassion bukan berarti kita menjadi individu yang egois dan serba ingin menang sendiri.

           Menjadi seseorang yang mampu mengasihi diri sendiri, justru digambarkan sebagai individu yang mampu berempati terhadap penderitaan orang lain dan mampu bersikap baik terhadap diri sendiri saat mengalami situasi yang tidak menyenangkan. Mengasihi diri sendiri ialah tentang bagaimana kita nemperlakukan diri kita dengan layak. Memberi ruang ketika kita sakit hati, memberi tempat ketika kita lelah, memberi spasi ketika kita mencintai, memberi terimakasih ketika kita telah berusaha, dan memberi pelukan ketika kita merana, karena hidup sejatinya tak semulus wajah oppa-oppa Korea.
         
           Akan ada kegagalan yang kita alami, kesulitan, hambatan, dan rintangan. Situasi tersebut akan sangat rentan menyebabkan stres, kecemasan, atau justru masalah-masalah psikologis lainnya. Dengan kita memberi ruang pada diri kita untuk merasakan penderitaan, kita belajar untuk bisa memberi kebaikan terhadap diri dan orang lain. Alih-alih menyalahkan diri, kita belajar untuk menepuk pundak kita sembari berbisik "Terimakasih, kamu sudah berjuang, kali ini belum berhasil tapi tidak apa, ayo kita coba lagi, kelak kita akan berhasil" Pada akhirnya, setelah kita menyayangi diri kita sendiri, kita akan memahami, bagaimana seseorang ingin diperlakukan, apa perasaan yang ia rasakan, sehingga kita berkembang menjadi individu yang lebih optimis, sekaligus individu yang lebih empati terhadap orang lain. Bagaimana kita akan member jka kita tidak memilki? Bagaimana kita memperlakukan orang lain adalah cerminan bagaimana kita memperlakukan diri kita. Jadi, sebelum berani mengungkapkan "Aku sayang padamu", coba bercermin terlebih dahulu , sudahkah kita mencintai sosok dalam cermin tersebut?.

Monday, March 11, 2019

Cara Meningkatkan Kemampuan Kontrol Diri pada Mahasiswa

    


 Perguruan tinggi merupakan Lembaga akademik dengan tugas utamanya menyelenggarakan pendidikan dan mengembangkan ilmu, pengetahuan, teknologi, dan seni. Tujuan pendidikan sejatinya tidak hanya mengembangkan keilmuan, tetapi juga membentuk kecerdasan emosi, kepribadian kemandirian, keterampilan sosial, dan karakter Salah satu indikator mahasiswa yang cerdas secara emosional adalah memiliki kemampuan mengontrol diri dengan baik.
      Kontrol diri merupakan salah satu kemampuan dasar untuk bertahan hidup. Hal ini dikarenakan ketidakmampuan mengendalikan emosi akan menjadi hambatan dalam hal berhubungan dengan orang lain. Mahasiswa yang tengah mengalami perubahan dari usia remaja menjadi dewasa harus memiliki kontrol diri yang baik untuk menyesuaikan diri pada lingkungannya. Indikator keberhasilan sebagal penanda tercapainya kemampuan mengontrol diri mahasiswa, antara lain:
a. Behavior control, Kontrol perilaku merupakan kemampuan untuk memodifikasi suatu keadaan yang tidak menyenangkan bagi seseorang. Kemampuan ini menyangkut siapa dan bagaimana seseorang dapat mengendalikan situasi atau keadaan yang tidak menyenangkan tersebut.
b. Cognitive control, Kontrol kognitif ialah kemampuan untuk mengolah informasi yang tidak diinginkan dengan cara menginterpretasi, menilai, atau memadukan suatu kejadian dalam kerangka kognitif sebagai suatu proses adaptasi psikologis untuk mengurangi tekanan.
c. Decisional control, Kontrol pengambilan keputusan adalah kemampuan untuk memilih suatu tindakan berdasarkan pada sesuatu yang diyakini atau disetujuinya. Pengendalian diri dalam menentukan pilihan akan berfungsi optimal dengan adanya suatu kesempatan, kebebasan, atau kemungkinan pada diri individu untuk memilih berbagai kemungkinan tindakan dalam pengambilan keputusan.
d. Emotional control, Kontrol emosi yaitu kemampuan mengarahkan energi emosi keseluruh ekspresi yang bermanfaat dan dapat diterima secara sosial. Kontrol emosi dilakukan dengan cara menitikberatkan pada penekanan reaksi-reaksi yang nampak terhadap rangsangan yang menimbulkan emosi.
     Sebagai individu, mahasiswa perlu mengembangkan nalar dalam penilaiannya dan memanajemen diri untuk menghindari ledakan emosi, juga untuk menenangkan diri ketika sedang berada dalam kondisi kehilangan kontrol diri. Mahasiswa yang kehilangan kontrol diri dapat melukai orang lain dan mungkin membahayakan hubungan positif dengan orang lain. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan mengontrol diri yaitu:
a. Berlatih mengontrol perilaku,  Mahasiswa dapat berlatih untuk mengendalikan diri dalam merespon suatu keadaan tertentu, misalnya ketika sedang merasakan amarah tetap mampu menahan keinginan, tidak membanting-banting benda/barang di sekitarnya namun mengalihkan pada hal-hal positif seperti membasuh muka dengan air, beribadah, relaksasi, mencari udara segar, dan lain-lain.
b. Berlatih mengendalikan kognitif, Mahasiswa mengendalikan diri untuk mengolah sebuah informasi sebagai media untuk mengurangi tekanan. Misalnya mahasiswa mengisi waktu dengan membaca akun media sosial yang berisi ilmu pengetahuan atau disesuaikan dengan hobi dan minat. Hal ini lebih bijak daripada sepanjang hari mahasiswa menghabiskan waktu untuk bermain game ketika sedang stres.
c. Berlatih mengambil keputusan, Mahasiswa dapat berlatih untuk memilih suatu tindakan tertentu yang telah diyakini. Misalnya mahasiswa dihadapkan pada beberapa permasalahan dalam satu situasi yang harus dipilh dengan mempertimbangkan skala prioritas dan resiko resiko yang terkecil.
Referensi:
Dr. Budi Astuti, M.Si.

Saturday, January 19, 2019

Tips menjadi Mahasiswa Baru

     Hai mahasiswa baru yang berbahagia, selamat bergabung di kampus tercinta. Abu-abu putih sudah berlalu, saatnya sekarang untuk kuliah. Apa yang kamu bayangkan tentang kuliah? Masuknya tidak harus dari pagi, kuliah nya tidak full dari pagi hingga sore (bahkan kadang kosong ya..), bajunya bebas, tidak perlu bawa buku paket, bolehlah dandan tipis-tipis (untuk cewek lho ya) dan lain sebagainya. Tapi apakah pada kenyataan nya begitu? Itu hanya sebagian kecil saja. Karena presepsi yang salah seperti itu, maka maba yang belum siap akan kewalahan ketika memasuki dunia perkuliahan dengan nyata. Pelajaran keteteran, tugas berantakan dan keuangan malah menipis. Itu semua terjadi karena tidak ada kesiapan mental dan kesalahan presepsi mengenai dunia perkuliahan.

       Menjadi mahasiswa baru memanglah cukup menyenangkan. Tetapi di balik itu semua ada beberapa tantangan yang harus kamu hadapi. Nah, agar kamu semakin siap menjadi dan menghadapi tantangan sebagai mahasiswa, ayolah kita bahas bagaimana serunya kehidupan kuliah mahasiswa di tahun pertama.

1. Lingkungan Sosial yang Berbeda. Jika dulu waktu SMA teman-temanmu lebih bersifat homogen (karena biasanya juga berasal dari daerah atau lingkungan yang sana), nah di bangku perkuliahan temanmu akan lebih heterogen. Mereka berasal dari daerah yang berbeda, budaya yang berbeda, bahasa yang berbeda dan banyak hal lagi yang berbeda. Kamu harus dapat berADAPTASI dengan baik tentunya. Tak kenal maka tak sayang bukan? Maka, inilah saatnya kamu memperluas pergaulan agar lebih banyak teman.

2. Cara Belajar yang Berbeda. Kalau kamu pikir sistem belajar pada masa SMA dengan masa kuliah itu sama, kamu harus mengubah pikiran itu dari sekarang. Karena pada kenyataannya hal ini sangat berbeda sekali. Kamu hanya cukup menyesuaikan diri terlebih dahulu dengan sistem pembelajaran yang berbeda ini. Santai aja, lagi-lagi ini cuma butuh adapatasi saja ,kamu pasti bisa.

3. Berpakaian ala Mahasiswa. Hal pertama yang menjadi masalah mahasiswa baru adalah masalah fashion. Dimulai dari harus pakai baju apa, hingga harus menggunakan sepatu seperti apa. Hal ini terjadi karena biasanya setiap hari kamu selalu menggunakan seragam yang sama saat - pergi ke sekolah. Sedangkan disaat duduk di bangku kuliah kamu harus menggunakan baju yang tidak selalu sama seperti teman-teman kamu. Jika kamu bingung saat memillh baju apa yang akan kamu gunakan saat ke kampus. Sebaiknya kamu gunakan saja baju yang kamu anggap nyaman namun tetap harus sopan.

4. Bagaimana berkomunikasi dengan dosen. Ikuti kuliah dengan baik dan coba kenali karakteristik dosen mu. Dengan mengenall karaktersitik dosen mu maka kamu akan lebih mudah belajar dan berkomunikasi dengan dosen tersebut.

5. Kemandirian. Nah, ini biasanya kalian yang merantau jauh dari tempat kamu tinggal. Bagi yang biasanya selalu bersama keluarga, tetapi disaat sudah kuliah kamu dituntut harus menjadi pribadi yang mandiri dengan melakukan apapun sendirian. Disinilah kamu akan belajar lebih banyak lagi dan disini juga kamu akan menjadi pribadi yang mandiri.

    
      Dunia perkuliahan memang seru kamu harus bertanggungjawab dengan dirimu sendiri. Selama kamu melakukan hal-hal positif sebagai mahasiswa dan menjadi mahasiswa yang aktif maka kamu akan menjadi mahasiswa hebat berprestasi dan lulus tepat waktu. Selamat menempuh semester baru.




Referensi:
Haryani, M.Pd.

Optimis menjadi Mahasiswa Perguruan Tinggi

   

      Memasuki kehidupan perguruan tinggi itu tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya mungkin kalian melakukan kesalahan, mendapat masalah, menghadapi kesulitan, atau mengalami kejadian yang membuat kurang nyaman. Ada saat itu, apa yang dapat kalian lakukan? Cobalah untuk tetap optimis. Carilah peluang peluang dari situasi tersebut.

     Optimisme terkait dengan keyakinan akan masa depan atau hasil yang baik. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang optimis memiliki kesehatan fisik dan mental yang lebih baik melalui gaya hidup yang lebih sehat, respon kognitif dan perilaku yang adaptif, fleksibilitas yang lebih tinggi, serta kemampuan memecahkan masalah yang lebih baik.

     Berikut ini beberapa cara yang dapat dilakukan untuk tetap optimis dalam situasi Sulit.
Pertama, fokuslah pada kekuatan yang dimiliki. Saat mengalami masalah, pikirkan apa yang menjadi kekuatan kalian. Meskipun setiap orang memiliki kelemahan, fokuslah pada kelebihan yang dimiliki. Gali kelebihan tersebut, dan temukan sumber-sumber yang dapat kalian gunakan untuk memecahkan masalah.

Kedua, fokuslah pada apa yang bisa diubah. Orang sering terjebak pada sesuatu yang tidak dapat diubah. Meratapi nilai jelek yang diberikan dosen tidak akan mengubah apapun. Carilah hal-hal yang yang dapat kalian ubah. Cara belajar, gaya hidup, sikap, dan kemampuan berkomunikasi merupakan sebagian dari hal-hal yang dapat kalian ubah dan dapat mengubah kehidupan kalian.

Ketiga, yakinlah bahwa apapun masalahnya, akan ada jalan keluar dan dapat dicari pemecahannya. Carilah peluang, kesempatan, atau hal-hal yang tidak biasa .

     Selain hal-hal tersebut, ada beberapa kebiasaan yang dapat memupuk optimisme.
Pertama, pada pagi hari setelah sholat atau berdoa, pikirkan hal-hal yang ingin kalian capai pada hari itu.  Visualisasi kan seakan-akan hal tersebut dapat kalian capai. Luangkan beberapa menit untuk melakukan hal tersebut.

Kedua, perbanyak bergaul dengan orang-orang yang memiliki pikiran positif dan optimisme. Energi positif dari orang-orang itu akan memengaruhi kalian untuk menjadi positif dan optimis. Kalian tidak perlu menghabiskan waktu dengan orang-orang  yang suka mencela, mencari keburukan teman, atau memfitnah orang lain.

Keempat, bersyukurlah atas apapun yang kalian miliki saat ini, serta atas pencapaian hari ini. Lakukan hal itu setiap hari. Tidak perlu menunggu hasil besar atau prestasi gemilang untuk bersyukur. Bahwa kalian masih mendapat kesempatan bernafas dengan gratis itupun anugrah Tuhan yang perlu disyukuri.

Kelima, sebelum memejamkan mata di malam hari, pikirkan sejenak hal-hal positif yang telah kalian kalian alami hari ini serta pencapaian yang telah sesuai dengan harapan. Setelah itu, bersyukurlah atas hal itu dan berdoalah untuk kebaikan esok hari. Optimislah bahwa kalian pasti bisa.

Referensi:
Dr. Siti Rohmah Nurhayati, M.Si